SURGA PEJALAN KAKI
Sepertinya sudah menjadi barang yang langka dan mahal , adanya kenyamanan dan keamanan bagi para pejalan kaki saat berada di jalan raya, karena hak-haknya sudah terenggut oleh berbagai hal yang dilatarbelakangi berbagai faktor dan kepentingan; Coba saja kita lihat , sangat jarang trotoar yang seharusnya diperuntukan bagi pejalan kaki, benar-benar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pejalan kaki itu sendiri.
Seperti juga halnya terjadi dengan penulis yang punya kebiasaan jogging tiap pagi dan sore di jalan raya (jangan keburu diprotes, dan disalahkan ...... kok gak di stadion ..... ???, karena diharapkan dengan kegiatan berjogging di jalanan , disamping meningkatkan kebugaran tubuh, juga akan menumbuhkan insprirasi, ide dan kepekaan sosial terhadap sesama manusia). Namun kegiatan tersebut saat ini dirasakan menjadi kegiatan yang dapat dikatakan "menantang maut", yang kadar bahayanya dapat dipersamakan dengan peran pengganti (stuntman) di film-film action, karena hak-hak kami yang terenggut sebagai pedestrian (pejalan kaki).
Seringkali penulis amati, fungsi trotoar sudah berubah menjadi wahana "jualan " bagi pedagang kaki lima, lahan parkir , dan bahkan setidak tidaknya tempat menancapkan baliho-baliho raksasa yang tidak hanya merusak pemandangan, akan tetapi kira - kira bisa membikin "gepeng" manusia apabila nasibnya apes kejatuhan ... hehehehe; Lebih mengenaskan lagi, karena adanya perusahaan-perusahaan kredit motor dan mobil yang semakin banyak dan berlomba-lomba menarik nasabah, membuat jumlah motor dan mobil di jalanan menjadi semakin padat dan kesemrawutan lalulintas menjadi semakin menjadi - jadi , sehingga tidak salah doa penulis bila dijalan selalu berharap " ...... Ya Allah uraikan kepadatan jalan kota Semarang ini .... Amieen ; Disisi lain ada satu hal yang lebih parah lagi , dimana kita dapatkan apabila ada jalanan yang sedikit lurus, plus agak haluuuuus dikiit aja udah jadi lahan balapan seperti di sirkuit Sepang Malaysia, dan menjadi ajang taruhan gengsi bagi Valentino Rossi dan Simmon Celli lokal , hal ini juga terjadi karena adanya iklan-iklan di media elektronik yang selalu mengutamakan kecepatan kendaraan sebagai jualan utama dagangannya (ingat iklan Komeng yang pakaiannya sampai robek-robek karena menunggang salah satu kendaraan roda dua) , kesemuanya itu menjadi sebab , dan faktor sehingga semakin membuat si pejalan kaki menjadi semakin termarginalkan, dan kegiatan jalan kaki menjadi mewah dan sangat mahal.
Keadaan seperti ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut, karena seharusnya pihak yang berwenang dapat membuat suatu aturan hukum yang benar-benar mengikat dan membuat jera para pelanggar, dan juga meminimalisasi jumlah kendaraan di jalan raya; Coba saja ada suatu aturan yang ketat bagi orang yang akan mencari ijin mengemudi dan juga memperketat aturan import motor maupun mobil, dan juga memperketat aturan kredit kendaraan, tentu saja kesemrawutan di atas tidak akan terjadi; Namun kesemuanya tentu harus melepaskan kepentingan pribadi dari para pembuat aturan serta penegak aturannya sendiri, sebagaimana ada adagium yang mengatakan apabila power tend to corrupt, dan tidak ada ampun lagi bagi pelanggar aturan tersebut, maka kejadian di tugu tani kemarin yang menewaskan sembilan orang pejalan kaki, karena adanya pengendara yang mabuk dan tidak dapat menunjukkan surat ijin mengemudi pasti tidak akan terulang lagi .
BROTO HASTONO - 01022012


